RSS

Karet Kalah Populer dari Sawit

04 Sep

SAWIT : Kelapa Sawit menjadi primadona perkebunan saat ini. Komoditas ini memiliki nilai jual tinggi hingga ke manca negara. FOTO : IST
PONTIANAK – Keberadaan pabrik pengolahan karet di Kalbar bertambah menjadi 17 pabrik, dari sebelumnya yang hanya 14 pabrik. Namun, bertambahnya pabrik ini tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan baku. “Pabrik semakin banyak, sedangkan bahan baku semakin berkurang,” kata sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Kalbar, Nicodemus, kemarin, (6/6).
Dia juga mengungkapkan, penambahan pabrik ini sampai saat ini masih belum melakukan pengiriman karet ke luar negeri. Sedangkan untuk ketersedian bahan baku yang akan diolah oleh pabrik tidak sesuai dengan keberadaan pabrik. Hasilnya, pabrik akan bersaing untuk bisa mendapatkan bahan baku. Dengan adanya persaingan pabrik untuk mendapatkan bahan baku ini, Nico berharap tidak terjadi persaingan yang tidak sehat. “Yang jelas akan menimbulkan persaingan yang tidak sehat, namun saya berharap hal itu tidak terjadi,” lanjut Nico.

Nico juga menjelaskan, kesadaran masyarakat untuk terus melestarikan dan memproduksi karet semakin berkurang. Ada sebagian masyarakat yang mengalihfungsikan kebut karet menjadi perkebuna kelapa sawit. Untuk perluasan kebun karet masih kalah jauh dengan perluasan perkebunan sawit.  Dari tahun ke tahun, perluasan perkebunan sawit berkembang pesat. Untuk tahun 2009 sampai tahun 2010, kebun sawit memperluas areanya mencapai 50.000 ha, sedangkan untuk kebun karet memperluasan areanya hanya kurang lebih 10.000 ha. Tidak hanya itu, ada juga sebagain masyarakat yang lebih tergiur merubah kabun karetnya menjadi kebun sawit.

Seperti yang dilakukan oleh Norman (54), warga Sungai Ambawang. Hampir satu setengah hektar kebun karetnya ditebang dan ditanami sawit. Menurutnya, perkebunan sawit lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan kebun karet. “Sawit didiamkan sudah bisa menghasilkan, tapi kalau karet harus ditoreh dulu,” kata Norman.

Dia juga menjelaskan, keuntungan kebun sawit lebih besar jika dengan kebun karet. Selain itu, jika musim hujan, karet tidak dapat ditoreh dan tentunya tidak dapat menghasilkan. Jikapun harus disewakan, kabun karet harganya lebih murah, hanya sekitar Rp2 sampai Rp4 juta per hektar setiap tahunnya. Tidak hanya itu, saat ini harga karet juga tidak menentu. Selain harganya yang sering turun drastis, harga karet juga sangat jarang menyentuh angka yang tinggi. “Paling cuma beberapa kali saja yang mahal, setelah itu baru murah lagi,” lanjut Norman.

Sedangkan untuk kebun sawit, menurut Norman lebih menguntungkan. Selain harganya yang dianggap mahal, kebun sawit bisa menghasilkan setiap bulan tanpa harus tergantung kepada musim.

“Sawit hanya dibutuhkan perawatan di awal saja, setelah itu tinggal menunggu hasilnya,” jelasnya.  Inilah yang membuat sebagian masyarakat yang menebang pohon karetnya dan menanaminya pohon sawit, karena keuntungan dan kerjanya yang dianggap tidak sulit. “Yang jelas lebih enak sawit dibandingkan karet, tidak tahu menurut orang lain,” pungkas Norman. (afi)

Geliat Komoditi Perkebunan

Karet:
2009
* Luas         : 571.321 Ha
* Produksi     : 234.181 ton
2010
*  Luas         : 581.664 Ha
* Produksi     : 245.813 ton

Kelapa Sawit:
2009
* Luas         : 602.124 Ha
* Produksi     : 862.515 ton
2010
* Luas         : 750.948 Ha
* Produksi     : 921.560 ton

(Sumber: Disbun Kalbar)

 
Leave a comment

Posted by on September 4, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: